Bahaya Perbuatan Sumah dalam Beramal
Bahaya Perbuatan Sum’ah dalam Beramal adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minnah ‘Alim Ar-Raqib. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 19 Safar 1448 H / 04 Agustus 2026 M.
Kajian Hadtis Tentang Bahaya Perbuatan Sum’ah dalam Beramal
Dalam keilmuan Islam, terdapat empat sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sama-sama bernama Abdullah dan sangat masyhur, yang dikenal dengan sebutan Al-‘Abadilah Al-Arba’ah:
- Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu
- Abdullah bin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhuma
- Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma
- Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhuma
Dalam literatur atau penulisan kitab-kitab hadits, apabila penulisan nama hanya disebutkan “dari Abdullah” (‘an Abdillah) tanpa menyertakan nama ayahnya, maka sosok yang dimaksud secara mutlak adalah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu. Adapun ketiga sahabat bernama Abdullah lainnya senantiasa dicantumkan nama ayahnya, seperti Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas), atau Abdullah bin ‘Amr.
Bahaya Perbuatan Sum’ah dalam Beramal
Peringatan mengenai bahaya memperdengarkan atau memamerkan amal kebaikan kepada manusia demi meraih pujian (sum’ah) disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhuma:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ سَمَّعَ النَّاسَ بِعَمَلِهِ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ مَسَامِعَ خَلْقِهِ وَصَغَّرَهُ وَحَقَّرَهُ
“Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barang siapa yang memperdengarkan amal ibadahnya kepada manusia, maka Allah kelak pada hari kiamat akan memperdengarkan di hadapan pendengaran seluruh makhluk-Nya, serta mengecilkan dan menghinakannya.`” (HR. At-Thabrani dan Al-Baihaqi)
Seseorang yang sengaja menyiarkan atau memamerkan amal ibadah serta kebaikannya agar didengar oleh orang lain akan menerima balasan setimpal pada hari kiamat. Allah ‘Azza wa Jalla akan membongkar keburukan niatnya di hadapan seluruh hamba di Padang Mahsyar, mempermalukannya, serta menempatkannya dalam keadaan hina dan tidak berharga di sisi-Nya.
Profil Sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash
Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bin Wa’il As-Sahmi Radhiyallahu ‘Anhuma disifati oleh Imam Adz-Dzahabi sebagai Al-Imam Al-Habr Al-‘Abid seorang pemimpin ulama yang berilmu luas serta tekun beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bin Wa’il As-Sahmi Radhiyallahu ‘Anhuma yang dikenal pula dengan julukan Abu Muhammad merupakan seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sekaligus putra dari sahabat mulia, ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhu. Ibunda beliau bernama Raitah binti Al-Hajjaj bin Munabbih As-Sahmiyah.
Selisih usia antara Abdullah dan ayahnya, ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhu, sangat dekat yaitu hanya 11 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa ‘Amr bin Al-‘Ash menikah pada usia yang amat muda. Sebagaimana dicatat oleh Imam Adz-Dzahabi, Abdullah memeluk Islam lebih dahulu daripada ayahnya. Beliau memiliki keutamaan (manaqib) yang besar, berilmu luas, serta senantiasa mengamalkan ilmunya.
Izin Khusus Penulisan Hadits
Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhuma memiliki keistimewaan khusus sebagai sahabat yang mendapatkan izin langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mencatat hadits-hadits beliau. Pada masa awal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sempat melarang pencatatan hadits agar tidak bercampur dengan Al-Qur’an. Keringanan penulisan tersebut diberikan secara khusus kepada Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma setelah beliau meminta kepastian kepada beliau:
وَعَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَأَكْتُبُ مَا أَسْمَعُ مِنْكَ؟ قَالَ: «نَعَمْ». قُلْتُ: عِنْدَ الْغَضَبِ وَعِنْدَ الرِّضَا؟ قَالَ: «نَعَمْ، إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي لِي أَنْ أَقُولَ إِلَّا حَقًّا
“Dari beliau (Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma), ia berkata: Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku boleh menulis semua yang aku dengar darimu?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Aku bertanya lagi, ‘Baik dalam keadaan rida maupun marah?’ Beliau menjawab, ‘Ya, karena sesungguhnya aku tidak mengatakan sesuatu kecuali kebenaran.`” (HR. Al-Hakim)
Mengenai wafatnya, sebagian ulama menyebutkan bahwa Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhuma wafat pada tahun 63 Hijriah, sedangkan pendapat lain menyatakan beliau wafat di Mesir pada tahun 65 Hijriah.
Pelajaran dari Pelarangan Perbuatan Sum’ah
Pelajaran utama dari riwayat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahaya sifat sum’ah yaitu kebiasaan menceritakan atau memamerkan amal kebaikan kepada manusia demi meraih popularitas dan pujian. Seseorang yang melakukan amal saleh tanpa rasa ikhlas akan menghadapi pembalasan pada hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membongkar niat busuknya di hadapan seluruh makhluk di Padang Mahsyar serta menempatkannya dalam kehinaan yang amat sangat. Kewaspadaan tinggi terhadap niat riya dan sum’ah wajib senantiasa dijaga dalam setiap perbuatan ibadah.
Umat Islam diperintahkan untuk mengikhlaskan seluruh amal ibadah semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba pada dasarnya terbagi menjadi dua kategori, yaitu ibadah yang tidak dapat disembunyikan dan ibadah yang dapat disembunyikan.
1. Ibadah yang Tidak Dapat Disembunyikan
Kategori pertama adalah amal ibadah yang secara lahiriah tampak dan tidak mungkin disembunyikan dari penglihatan orang lain. Contoh dari ibadah ini meliputi pelaksanaan shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki, shalat ‘Id, menjadi imam shalat, serta menunaikan ibadah haji dan umrah.
Pelaksanaan ibadah yang tampak menuntut perjuangan ekstra dalam meluruskan dan menjaga niat agar tetap murni karena Allah ‘Azza wa Jalla. Bahaya timbul tatkala ibadah yang tampak tersebut ditunggangi oleh niat selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti seseorang yang rajin shalat berjamaah di masjid hanya demi menarik perhatian dan mendapat pujian dari calon mertua.
Meluruskan niat membutuhkan perjuangan berat melawan hawa nafsu. Keikhlasan terasa sulit bagi jiwa manusia karena nafsu tidak mendapatkan bagian berupa pujian, sanjungan, atau kepopuleran. Sikap ikhlas menuntut penundukan hawa nafsu secara total agar amal tidak bernilai sia-sia.
2. Ibadah yang Dapat Disembunyikan
Kategori kedua adalah amal ibadah yang dapat disembunyikan dari pengetahuan orang lain. Seorang hamba hendaknya berusaha secara maksimal untuk menyembunyikan amalan tersebut dari persaksian manusia.
Pelaksanaan shalat malam (tahajud) merupakan contoh amalan yang sebaiknya disimpan rapat tanpa perlu diceritakan kepada kawan maupun rekan kerja. Demikian pula halnya dengan sedekah sunnah, yang sedapat mungkin disembunyikan dari khalayak ramai.
Berbeda halnya dengan zakat harta (zakat mal), penampakannya justru memiliki hikmah syariat. Hikmah pertama adalah untuk menghindarkan pemilik harta dari tuduhan atau prasangka buruk masyarakat yang mengira dirinya tidak menunaikan kewajiban zakat. Hikmah kedua adalah memberikan teladan positif bagi kaum muslimin lainnya agar terdorong untuk menghitung dan mengeluarkan zakat dari harta mereka.
Adapun dalam sedekah sunnah, penyembunyian amalan merupakan keutamaan besar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan keutamaan tersebut dalam hadits mengenai tujuh golongan manusia yang mendapatkan naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat:
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
“Dan seorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu ia menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibadah sunnah yang dapat disembunyikan hendaknya dilakukan tanpa sepengetahuan orang lain, bahkan dari anggota keluarga terdekat sekalipun. Penjagaan atas kerahasiaan amal menjadi sarana efektif dalam merawat keikhlasan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebaliknya, peringatan keras ditujukan bagi siapa saja yang terjerumus ke dalam perbuatan riya (beramal agar dilihat orang) serta sum’ah (beramal agar didengar orang) demi memburu pujian manusia. Imam Al-Khattabi menjelaskan bahwa seseorang yang beramal tidak ikhlas dengan maksud agar dilihat dan didengar manusia akan diberi balasan yang serupa. Niat buruk yang disembunyikannya sewaktu di dunia akan dibongkar serta dipermalukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan khalayak pada hari kiamat.
Kehinaan dan Kemuliaan Hakiki di Sisi Allah
Prinsip penting yang dapat dipetik adalah bahwasanya siapa pun yang dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan dapat dimuliakan oleh siapa pun. Sebaliknya, siapa saja yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta mejelis tidak akan dapat dihinakan. Ketetapan ini sesuai dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an:
وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
“Dan barangsiapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang dapat memuliakannya. Sungguh, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj[22]: 18)
Pembalasan Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa penyingkapan keburukan niat para pelaku riya dan sum’ah di Padang Mahsyar merupakan bentuk kehinaan yang mutlak. Oleh karena itu, permohonan anugerah keikhlasan dalam beramal baik yang tampak maupun yang tersembunyi harus senantiasa dipanjatkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Ancaman Riya dan Sum’ah dalam Hadits Jundub bin Abdullah
Penegasan mengenai bahaya riya dan sum’ah disampaikan pula melalui sahabat Jundub bin Abdullah Al-Bajali Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
“Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya (kepada orang lain), maka Allah akan memperdengarkan (keburukan niatnya). Dan barang siapa yang pamer dengan amalnya, maka Allah akan memperlihatkan (keburukan niatnya) pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits tersebut memberikan pelajaran mendasar bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima suatu amal ibadah melainkan yang dikerjakan secara murni dan ikhlas karena-Nya.
Profil Sahabat Jundub bin Abdullah dan Wasiat Utama
Jundub bin Abdullah Al-Bajali Radhiyallahu ‘Anhu merupakan seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mulia. Beliau berpindah dari Madinah menuju Kufah, kemudian bermukim di Basrah.
Diriwayatkan oleh Yunus bin Ubaid bahwa para tabi’in sangat bersemangat untuk menimba ilmu dan meminta nasihat dari para sahabat. Ketika Yunus bin Ubaid menemani perjalanan Jundub bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu serta meminta wasiat darinya, beliau memberikan nasihat yang sangat berharga:
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَأُوصِيكُمْ بِالْقُرْآنِ، فَإِنَّهُ نُورٌ فِي اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, dan aku wasiatkan kepada kalian untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an adalah cahaya di malam hari yang gelap gulita.”
Al-Qur’anul Karim merupakan sumber cahaya pada malam hari yang gelap gulita serta menjadi petunjuk hidup pada siang hari. Keharusan mengamalkan ajaran Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh wajib ditunaikan oleh setiap muslim. Apabila ujian hidup menerpa, pengorbanan harta benda hendaknya didahulukan daripada mengorbankan atau menjual nilai-nilai agama.
Pentingnya penguatan landasan keimanan sebelum menelaah Al-Qur’an ditegaskan oleh sahabat Jundub bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu tatkala menceritakan masa mudanya bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا
“Kami dahulu bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat kami masih remaja yang menjelang dewasa. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an, kemudian kami mempelajari Al-Qur’an sehingga bertambahlah keimanan kami darinya.” (HR. Ibnu Majah)
Proses penanaman akidah dan keikhlasan secara bertahap menjadi fondasi kuat dalam menjalankan seluruh amal ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sahabat Jundub bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu wafat pada kisaran tahun 70 Hijriah.
Ancaman Syirik Khafi yang Lebih Dikhawatirkan daripada Dajjal
Kewaspadaan tinggi terhadap keikhlasan beramal tercermin dalam riwayat sanad keluarga dari Rubaih bin Abdurrahman bin Abi Sa’id Al-Khudri, dari ayahnya, dari kakeknya yaitu Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu.
Pada suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar dari kediaman beliau dan mendapati para sahabat di masjid sedang bermudzakarah (saling mengingatkan) mengenai bahaya Al-Masih Ad-Dajjal yang akan muncul pada akhir zaman. Mengetahui topik pembicaraan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kabar mengenai perkara yang lebih mengkhawatirkan daripada fitnah Dajjal:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ فَقُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ؛ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ فَيُصَلِّيَ، فَيُزَيِّنَ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku takuti menimpa kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal? Para sahabat menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘(Perkara tersebut adalah) syirik yang tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri menunaikan shalat, lalu ia memperindah shalatnya karena melihat ada orang lain yang memperhatikan shalatnya.`” (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)
Peristiwa tersebut memberikan pelajaran mendasar mengenai kebiasaan mulia para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Ketika berkumpul, para sahabat senantiasa memanfaatkan waktu untuk bermudzakarah mengenai ilmu agama, kebiasaan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunjukkan semangat tinggi dalam mempelajari dan mengulang-ulang (mudzakarah) ilmu agama.
Riwayat tersebut sekaligus menggambarkan besarnya perhatian serta rahmat kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umatnya melalui bimbingan, arahan, serta penanaman ilmu yang bermanfaat.
Dahsyatnya Fitnah Al-Masih Ad-Dajjal
Salah satu pokok pembahasan penting di kalangan sahabat adalah fitnah Al-Masih Ad-Dajjal yang akan muncul pada akhir zaman. Dajjal merupakan ujian (fitnah) besar karena diberikan kemampuan menampakkan hal-hal luar biasa untuk menyesatkan orang-orang yang lemah imannya, seperti memerintahkan langit untuk menurunkan hujan serta memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman.
Sifat bahaya dari fitnah tersebut menuntut kewaspadaan tinggi. Arahan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala Dajjal muncul adalah agar setiap muslim tetap berada di dalam rumah dan tidak sengaja keluar untuk menemuinya. Perlindungan dari fitnah Dajjal senantiasa diajarkan melalui doa sebelum salam dalam shalat:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Meskipun fitnah Dajjal amat dahsyat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengkhawatirkan satu perkara harian yang bahayanya dapat menimpa setiap muslim kapan saja tanpa menunggu munculnya Dajjal, yaitu syirik yang tersembunyi. Syirik yang samar ini merusak keikhlasan dan nilai amal ibadah seseorang di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.
Contoh syirik yang samar tidak hanya terbatas pada ibadah shalat seperti seseorang yang secara khusus memperindah gerakan shalatnya karena menyadari sedang dilihat oleh orang lain. Syirik yang samar dapat pula terjadi pada ibadah lainnya, seperti membaca Al-Qur’an. Seseorang yang tadinya membaca Al-Qur’an dengan nada biasa, kemudian sengaja mengubah suaranya menjadi sangat merdu tatkala mendengar kedatangan tamu agar mendapat pujian, telah terjerumus ke dalam bentuk syirik yang tersembunyi.
Pembagian Jenis Syirik
Para ulama membagi jenis syirik menjadi dua kategori, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Sebagian ulama lainnya membaginya menjadi tiga kategori, yaitu syirik besar, syirik kecil, dan syirik yang samar.
Syirik yang samar pada hakikatnya identik dengan perbuatan riya atau syirik yang rahasia/tersembunyi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan tegas kepada seluruh umat agar senantiasa waspada terhadap bahaya syirik yang tersembunyi:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَشِرْكَ السَّرَائِرِ
“Wahai sekalian manusia, jauhilah oleh kalian syirik yang tersembunyi.” (HR. Ibnu Khuzaimah)
Para sahabat menanyakan hakikat dari syirik yang samar atau tersembunyi kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penjelasan mengenai bentuk syirik yang tersembunyi tersebut melalui sabda beliau:
قَالَ: يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ جَاهِدًا لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ الرَّجُلِ إِلَيْهِ، فَذَلِكَ شِرْكُ السَّرَائِرِ
“Beliau bersabda: Seorang berdiri menunaikan salat, lalu ia bersungguh-sungguh memperindah shalatnya karena melihat ada orang lain yang memperhatikannya. Maka itulah yang dinamakan syirik yang tersembunyi.” (HR. Ibnu Khuzaimah)
Profil Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri
Perawi hadits tersebut adalah sahabat mulia Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, yang memiliki nama asli Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khazraji. Beliau merupakan salah seorang ulama, mufti di Kota Madinah setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta tergolong sebagai pakar fikih dan mujtahid dari kalangan Anshar.
Ayah beliau, Malik bin Sinan Radhiyallahu ‘Anhu, juga merupakan seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang gugur sebagai syahid pada Perang Uhud. Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu turut hadir dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriah, yaitu momen tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta sekitar 1.700 sahabat dihalangi oleh kaum Quraisy untuk memasuki Makkah guna menunaikan umrah.
Dalam peristiwa Hudaibiyah tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu untuk berdialog dengan tokoh Quraisy. Ketika muncul isu bahwa Utsman terbunuh, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam segera mengambil ikrar setia (bai’at) dari para sahabat untuk tidak kembali sebelum menuntut keadilan. Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu menjadi salah satu saksi sejarah peristiwa tersebut. Beliau banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, serta sahabat lainnya. Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu wafat pada tahun 74 Hijriah dan dimakamkan di Pemakaman Baqi’, Madinah.
Ancaman Syirik Kecil dan Balasan Bagi Pelaku Riya
Kekhawatiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap bahaya riya ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Mahmud bin Labid Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ: إِذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Riya. Allah ‘Azza wa Jalla akan berfirman pada hari kiamat tatkala memberikan balasan atas amal perbuatan manusia: Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian harapkan pujiannya di dunia! Maka lihatlah, apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?” (HR. Ahmad)
Perintah Allah ‘Azza wa Jalla kepada para pelaku riya untuk mencari pahala kepada manusia yang diharapkan pujiannya di dunia menegaskan keutamaan keikhlasan. Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang jayyid ini menjelaskan tentang bahaya syirik kecil.
Profil Sahabat Mahmud bin Labid
Hadits tersebut diriwayatkan melalui sahabat Mahmud bin Labid bin ‘Uqbah bin Rafi’ Abu Nu’aim Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau dilahirkan di Kota Madinah sewaktu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masih hidup. Mahmud bin Labid tergolong ke dalam kelompok sahabat berusia muda, sehingga riwayat-riwayat hadits beliau dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disampaikan melalui perantara sahabat yang lebih senior.
Kedudukan riwayat Mahmud bin Labid dikenal sebagai mursal shahabi. Beliau menimba dan meriwayatkan ilmu hadits dari para sahabat utama seperti Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Qatadah bin Nu’man, dan Rafi’ bin Khadij Radhiyallahu ‘Anhum. Imam Adz-Dzahabi mencatat bahwasanya Mahmud bin Labid Radhiyallahu ‘Anhu wafat pada tahun 97 Hijriah dalam usia 96 tahun.
Pelajaran utama dari hadits Mahmud bin Labid mencakup penetapan mengenai pembagian jenis-jenis kesyirikan. Salah satu bentuk dari syirik kecil adalah perbuatan riya.
Seseorang yang berbuat riya tidak sampai terjerumus ke dalam kekufuran atau keluar dari agama Islam (murtad), sebab keyakinan dan keimanannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap ada. Namun, niat dalam pelaksanaan amalnya terkontaminasi oleh harapan akan pujian manusia. Perbedaan mendasar antara syirik besar dan syirik kecil terletak pada dampaknya: syirik besar mengeluarkan seseorang dari Islam dan menghapus seluruh amal ibadahnya, sedangkan syirik kecil tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.
Para ulama mendefinisikan riya sebagai sikap meninggalkan keikhlasan dalam perkataan maupun perbuatan. Riya terjadi tatkala suatu perkataan atau perbuatan yang tergolong ibadah dikerjakan tanpa mengharapkan keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla, melainkan demi meraih sanjungan dan persaksian manusia.
Riya berdampak langsung pada gugurnya nilai pahala suatu ibadah. Suatu amal ibadah yang bercampur dengan riya secara otomatis tertolak dan tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pengguguran pahala akibat syirik kecil bersifat khusus pada amalan yang tercemar riya saja, serta tidak merusak atau menghapuskan amalan-amalan lain yang dikerjakan secara ikhlas.
Setiap bentuk ibadah yang ditujukan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau mengandung penyekutuan niat di dalamnya tidak akan membuahkan pahala di sisi-Nya. Hal tersebut mempertegas kewajiban untuk senantiasa memurnikan niat, sebab zat yang berkuasa memberikan balasan pahala hakiki pada hari kiamat kelak hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Segala bentuk sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memberikan manfaat sedikit pun serta tidak berkuasa memberikan balasan pahala kepada para penyembahnya. Zat yang berwenang memberikan pahala hakiki pada hari kiamat kelak hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Penyeruan di Hari Kiamat
Penegasan mengenai hal tersebut tertuang dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id bin Abi Fadhalah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ لِيَوْمٍ لاَ رَيْبَ فِيهِ نَادَى مُنَادٍ: مَنْ كَانَ أَشْرَكَ فِي عَمَلٍ عَمِلَهُ لِلَّهِ أَحَدًا فَلْيَطْلُبْ ثَوَابَهُ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ
“Apabila Allah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan orang-orang yang belakangan pada hari kiamat, yaitu hari yang tidak ada keraguan tentangnya, maka ada penyeru yang memanggil: Barangsiapa yang menyekutukan Allah dengan sesuatu dalam amal yang dikerjakannya, maka hendaklah ia meminta pahalanya dari selain Allah. Sesungguhnya Allah adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu.” (HR. Tirmidzi)
Profil Sahabat Abu Sa’id bin Abi Fadhalah
Perawi hadits tersebut adalah Abu Sa’id bin Abi Fadhalah Al-Madani Radhiyallahu ‘Anhu (disebutkan pula dalam sebagian riwayat dengan nama Abu Sa’ad bin Fadhalah). Beliau merupakan salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berasal dari Kota Madinah, sebagaimana dicatat oleh Ibnu Sa’ad.
Sahabat Abu Sa’id bin Abi Fadhalah Radhiyallahu ‘Anhu tergolong sebagai salah satu peserta yang turut serta dalam Perang Khandaq pada tahun 5 Hijriah. Beliau meriwayatkan hadits mengenai kecukupan Allah ‘Azza wa Jalla yang tidak membutuhkan sekutu sedikit pun dalam setiap amalan ibadah hamba-Nya.
Kepastian Hari Kiamat sebagai Rukun Iman
Pelajaran mendasar dari hadits tersebut memuat penegasan mengenai peristiwa hari kiamat. Keimanan terhadap hari kiamat merupakan salah satu dari enam rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim tanpa ada keraguan sedikit pun. Momen terjadinya hari kiamat merupakan rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun, tetapi kepastian kedatangannya serta hari kebangkitan manusia dari alam kubur telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَى وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لاَ رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ
“Yang demikian itu karena sungguh, Allah Dialah yang hak, dan sungguh, Dialah yang menghidupkan segala yang mati, dan sungguh, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sungguh, (hari) kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.” (QS. Al-Hajj[22]: 6-7)
Kepastian akan datangnya pembalasan pada hari kiamat menjadi dorongan kuat bagi setiap hamba untuk senantiasa memurnikan keikhlasan niat dalam seluruh ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Keagungan Keikhlasan dan Bahaya Dosa Syirik
Kumpulan hadits di atas secara keseluruhan memberikan penegasan mendasar mengenai keutamaan keikhlasan serta peringatan keras dari bahaya perbuatan syirik. Dosa syirik merupakan pelanggaran terbesar di dalam Islam yang tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila pelakunya meninggal dunia dalam keadaan belum sempat bertobat. Firman Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an menjelaskan ketetapan tersebut:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena menyekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa yang (selain dari syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`[4]: 48)
Ancaman tidak diampuninya dosa syirik berlaku khusus bagi hamba yang menutup usianya tanpa didahului tobat. Adapun hamba yang bertobat secara sungguh-sungguh dari perbuatan syirik sebelum ajalnya tiba, maka Allah ‘Azza wa Jalla Maha Pengampun lagi Maha Penerima Tobat.
Allah ‘Azza wa Jalla merupakan Dzat Yang Maha Tunggal dalam menetapkan balasan pahala maupun sanksi azab kepada setiap hamba berdasarkan amal perbuatannya. Penyelenggaraan balasan tersebut terlaksana dengan penuh keadilan serta kebijaksanaan.
Orang-orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah terancam oleh azab yang sangat pedih. Oleh karena itu, kelurusan niat di dalam menunaikan ibadah wajib senantiasa dipelihara agar terhindar dari murka-Nya.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56430-bahaya-perbuatan-sumah-dalam-beramal/